Cerita

Jejak Sunyi Sang Pengamat di Tengah Lalu Lintas Kota

Hujan baru saja reda saat kabut tipis menyelimuti atap-atap kota Tulungagung. Embun masih bergelayut manja di dedaunan, dan aroma tanah basah menyeruak lewat celah-celah jendela yang belum rapat ditutup. Di dalam gedung pemerintah, terdapat sebuah ruangan tetap terang dan hidup sejak dini hari. Di tengah pantulan cahaya layar yang silih berganti menampilkan persimpangan jalan, tampak satu sosok yang duduk sendiri, di sinilah cerita ini dimulai.

Ia tidak berbicara. Tidak juga sibuk mengutak – atik sistem dengan tergesa. Ia hanya… mengamati. Matanya bergerak perlahan, dari satu kamera ke kamera lain, seolah membaca sesuatu yang tak tertulis. Tak ada nama di mejanya, tak ada tanda pangkat di dadanya. Ia adalah bayangan di balik semua data yang bergerak.

Orang-orang di kantor menyebutnya dengan satu nama sederhana: Sang Pengamat.

Tak seorangpun tau kapan ia mulai bekerja di sana. Ia datang lebih awal dari siapa pun dan pulang paling akhir. Namun bukan soal waktu yang membuatnya berbeda. Bukan pula soal kemampuan teknis yang ia kuasai tanpa perlu pamer. Yang membuatnya istimewa adalah caranya memahami jalanan – bukan sebagai jalur aspal dan beton, melainkan sebagai makhluk hidup yang harus dipahami, ditenangkan, bahkan disembuhkan.

Pagi itu, ia memandangi salah satu simpang yang mulai sesak. Kendaraan mengular, pejalan kaki terhambat, dan suara klakson bersahutan tanpa harmoni. Tapi Sang Pengamat tidak tergesa memberi instruksi. Ia diam. Ia melihat. Ia mendengar suara yang tak terdengar. Dan ketika waktunya tiba, ia menutup buku catatannya, memasukkan ke dalam jaket dinasnya yang mulai pudar warnanya, dan pergi. Tanpa sepatah kata pun.

Motor dinasnya melaju pelan di antara lalu lintas yang ramai. Ia menyusuri jalur-jalur yang hanya diketahui oleh mereka yang benar-benar mengenal kota ini. Bukan dari peta. Tapi dari naluri. Dari pengalaman.

Ia berhenti di depan sekolah dasar. Murid-murid baru saja pulang. Seorang anak nyaris tertabrak karena tak ada petugas yang membantu mereka menyeberang. Ia berdiri diam di sisi jalan, memperhatikan. Tak ada yang menyapanya. Tak ada yang tahu bahwa seorang pengamat tengah mencatat kekacauan kecil yang bisa membawa petaka besar.

Dua hari kemudian, tanpa banyak pembahasan panjang, sebuah zebra cross baru muncul di depan sekolah itu. Dan setiap pagi, seorang petugas berjaga di sana. Tak ada yang tahu siapa yang mengusulkan. Tak ada yang tahu siapa yang memperhatikan.

Tapi kita tahu. Itu dia. Sang Pengamat.

Ia muncul di mana-mana, tapi tak pernah benar-benar terlihat. Kadang di simpang Pasar yang macet di jam pasar. Kadang di jalur sepi dekat perbatasan desa, tempat truk-truk besar masuk tanpa aba-aba. Ia mencatat semuanya – kecepatan kendaraan, pola belok, ketidakseimbangan lampu lalu lintas. Ia tidak butuh alat canggih. Hanya selembar kertas, dan matanya yang seperti bisa melihat hal-hal yang tak tampak. Baginya, kota ini adalah teka-teki yang terus berubah. Dan ia adalah penjaga diam yang mencoba menyusunnya kembali, satu bagian demi satu bagian.

Malam mulai turun. Kota perlahan meredup. Namun di ruang itu, tetap menyala. Sang Pengamat kembali duduk di kursinya, membuka kembali catatan harian yang telah penuh dengan coretan, lalu mulai menyusun pola baru rekayasa jalan. Ia tidak menulis dengan bahasa rumit. Tidak bertele-tele. Hanya kalimat ringkas, penuh makna.

Kadang:
“Simpang timur terlalu lama merah. Ubah siklus menjadi 20-30 detik.”

Atau:
“Rambu di pertigaan barat tertutup baliho. Minta bersihkan.”

Tak ada nama di bawah catatan itu. Hanya sebuah cap kecil bertuliskan:
Unit Pemantau Rekayasa Jalan.

Bersambung ~

( Pengarang : RDP / Woro² )