Sebuah Simetri dalam Gangguan
Hujan baru saja reda, menyisakan uap tipis yang menggantung rendah di atas permukaan jalan. Udara lembap menempel di jaket seorang petugas Dinas Perhubungan – sosok yang dikenal diam dan teliti, biasa disebut orang-orang sebagai Sang Pengamat. Pagi itu, ia mengendarai motornya melintasi jalan Kabupaten Tulungagung, tapi dengan arah yang tidak biasa.
Bukan karena ingin, tapi karena ada sesuatu yang mengusik pikirannya sejak semalam – sebuah ketidakteraturan dalam sistem lalu lintas. Bukan kerusakan, bukan kecelakaan. Tapi sebuah kejadian yang menolak masuk akal.

Lampu lalu lintas simpang pusat kota – salah satu simpul rekayasa jalan terpenting di kota – tiba-tiba mati selama 4 menit 36 detik.
Tidak ada laporan gangguan dari PLN. Tidak ada peringatan dari server sistem kontrol lalu lintas. Sistem CCTV lalu lintas juga tak merekam kejadian aneh apapun.
Namun data berkata lain: kecepatan kendaraan meningkat signifikan dalam selang waktu itu, lalu kembali normal seolah tidak terjadi apa-apa. Bagi orang biasa, itu mungkin tidak berarti apa-apa. Tapi tidak bagi Sang Pengamat. Ini bukan kerusakan. Ini seperti sebuah percobaan. Sebuah pesan.
Di tengah lalu lintas yang mulai ramai, ia berjalan menyusuri trotoar. Sepasang matanya yang tajam memperhatikan marka jalan, rambu lalu lintas, dan struktur fisik di sekitarnya. Ia membaca semuanya layaknya bahasa rahasia – bahasa jalanan yang hanya bisa ditafsirkan oleh mereka yang hidup di balik layar sistem.
Dan di sanalah ia melihatnya.

Tepat di belakang tiang rambu lalu lintas arah utara – area buta kamera pemantau lalu lintas – terpaku sebuah benda kecil. Hitam. Kasar. Dan berbentuk segitiga.
Ia mendekat, perlahan, seperti sedang membaca kode.
Segitiga kecil itu bertekstur. Ukurannya seperti koin logam. Sekilas tampak seperti pecahan plastik. Tapi saat disentuh, benda itu dingin, dan memiliki permukaan aneh – urat-urat halus seperti jalur sirkuit mikro. Atau… seperti peta tersembunyi.
Dengan refleks yang terlatih, Sang Pengamat mengeluarkan lensa makro dari sakunya. Alat sederhana yang biasa ia gunakan untuk memeriksa kabel retak dan baut longgar. Kini ia menempelkannya ke kamera ponsel, dan memotret pola pada segitiga itu.
Saat diperbesar, tampak garis-garis membentuk kode koordinat geografis.
01°42.119′ S, 111°56.220′ E
Ia berdiri diam menatap hasil fotonya. Orang-orang berlalu di sekitarnya, tak menyadari bahwa seorang petugas survei rekayasa jalan sedang membongkar teka-teki yang tersembunyi di antara rambu dan aspal. Ini bukan vandalisme. Ini adalah komunikasi rahasia.
Tapi… dengan siapa?

Di atas sebuah gedung kosong di seberang jalan, seseorang berdiri diam. Sosok ini mengawasi Sang Pengamat dari kejauhan. Tak bergerak. Tak mengucap sepatah kata pun.
Tangan kirinya menggenggam sebuah segitiga kecil serupa, namun berbeda.
Ini bukan akhir teka-teki. Ini baru permulaan.
( Pengarang : RDP / Woro² )